Manusia Sebagai Makhluk Sosial
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Pertama mari kita panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT
yang telah memberikan rahmatnya sehingga saya bisa menyelesaikan resume ini.
Dan tak lupa kita mengucapkan shalawat dan salam atas junjungan kita Nabi
Muhammad SAW yang telah membawa kita ke jalan yang di ridhai Allah SWT.
Disini saya akan menjelaskan manusia sebagai makhluk sosial.
Manusia adalah makhluk individu sekaligus makhluk sosial. Sebagai makhluk
individu ia memiliki karakter yang unik, yang berbeda satu dengan yang lain
(bahkan kalaupun merupakan hasil cloning), dengan fikiran dan kehendaknya yang
bebas. Dan sebagai makhluk sosial ia membutuhkan manusia lain, membutuhkan
sebuah kelompok – dalam bentuknya yang minimal – yang mengakui keberadaannya,
dan dalam bentuknya yang maksimal – kelompok di mana dia dapat bergantung
kepadanya
Manusia membutuhkan kebersamaan dalam kehidupannya. Allah
Subhanahu wa Ta’ala menciptakan manusia beraneka ragam dan berbeda-beda tingkat
sosialnya. Ada yang kuat, ada yang lemah, ada yang kaya, ada yang miskin, dan
seterusnya. Demikian pula Allah Subhanahu wa Ta’ala ciptakan manusia dengan
keahlian dan Kepandaian yang
berbeda-bedapula
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri.
Manusia membutuhkan kebersamaan dalam kehidupannya. Semua itu adalah dalam
rangka saling memberi dan saling mengambil manfaat
Hubungan vertikal dan horizontal dalam islam sering
disebutkan sebagai hamblumminallah dan hamblumminannas. Jika Hubungan vertikal
sering diidentikkan dengan hubungan manusia dengan Allah (hamblumminallah),
maka hubungan horizontal di identikan dengan hubungan manusia dengan manusia
lainnya, (hamblumminannas).Jadi, manusia sangat membutuhkan Allah dan mahkluk hidup
lainnya, hal ini membuat manusia harus
hidup berkelompok, sehingga kemudian muncullah ikatan-ikatan – bahkan pada
manusia purba sekalipun. Kita mengenal adanya ikatan keluarga, ikatan kesukuan,
dan pada manusia modern adanya ikatan profesi, ikatan negara, ikatan bangsa,
hingga ikatan peradaban dan ikatan agama.
Dalam rangka menjalin hubungan sosial dalam maknanya yang
umum – ada beberapa tahapan konseptual yang perlu diperhatikan. Secara garis
besar tahapan tersebut dapat dibagi menjadi:
1. Ta’aruf
Ta’aruf dapat diartikan sebagai saling mengenal. Dalam
rangka mewujudkannya, kita perlu mengenal orang lain, baik fisiknya, pemikiran,
emosi dan kejiwaannya. Dengan mengenali karakter-karakter tersebut,
Dalam Surat Al Hujurat, Allah berfirman:
Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu
dari seorang laki-laki dan perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan
bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling
mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara
kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al Hujurat:13)
Ta’aruf ini perlu kita lakukan dari lingkungan yang terdekat
dengan kita. Dengan keluarga, dengan lingkungan sekolah atau tempat bekerja,
hingga berta’aruf dalam komunitas yang lebih luas,
Di era sekarang ini hal ini sudah hampir tidak diperhatikan
apalagi masalah ta’aruf, diwilayah perkotaan, oran-orang sibuk memikirkan
kepentingannya peribadi dan tidak memperdulikan lingkungan sekitarnya seperti
yang bisa lihat di daerah perumahan (real estate) semua hidup dengan serba
individulaistik.
2. Tafahum
Pada tahap tafahum (saling memahami), kita tidak sekedar
mengenal saudara kita, tapi terlebih kita berusaha untuk memahaminya. Sebagai
contoh jika kita telah mengetahui tabiat seorang rekan yang biasa berbicara
dengan nada keras, tentu kita akan memahaminya dan tidak menjadikan kita lekas
tersinggung. Juga apabila kita mengetahui tabiat rekan lain yang sensitif,
tentu kita akan memahaminya dengan kehati-hatian kita dalam bergaul dengannya.
Perlu diperhatikan bahwa tafahum ini merupakan aktivitas dua
arah. Jadi jangan sampai kita terus memposisikan diri ingin difahami orang
tanpa berusaha untuk juga memahami orang lain.
3. Ta’awun
Ta’awun atau tolong-menolong merupakan aktivitas yang
sebenarnya secara naluriah sering (ingin) kita lakukan. Manusia normal umumnya
telah dianugerahi oleh perasaan ‘iba’ dan keinginan untuk menolong sesamanya
yang menderita kesulitan – sesuai dengan kemampuannya. Hanya saja derajat
keinginan ini berbeda-beda untuk tiap individu.
Dalam surat Al Maidah, Allah berfirman:
Artinya: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan)
kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan
pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat
siksa-Nya.” (Al Maaidah:2)
Dalam hadits:
Artinya: “Dan Allah akan selalu siap menolong seorang hamba
selama hamba itu selalu siap menolong saudaranya.”
Juga dalam hadits Ibnu Umar di atas (“al muslimu akhul
muslimi …”), seterusnya disebutkan bahwa siapa yang memperhatikan kepentingan
saudaranya itu maka Allah memperhatikan kepentingannya, dan siapa yang
melapangkan satu kesulitan terhadap sesama muslim maka Allah akan melapangkan
satu dari beberapa kesulitannya nanti pada hari qiyamat, dan barangsiapa yang
meneyembunyikan rahasia seorang muslim maka Allah menyembunyikan rahasianya
nanti pada hari qiyamat.
Dalil naqli di atas memberi encouragement bahkan perintah
kepada orang beriman untuk tolong-menolong, yang dibatasi hanya dalam masalah
kebajikan dan taqwa. Bentuk tolong-menolong ini bisa dilakukan dengan saling
mendo’akan, saling menasihati, juga saling membantu dalam bentuk amal
perbuatan.
Dalam hal ini kita perlu memperhatikan hadits shahih dari
Anas bin Malik ra, bahwa Rasulullah saw bersabda:
Artinya: “Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim atau yang
dizalimi.” Aku bertanya, “Ya Rasulullah, menolong orang yang dizalimi dapatlah
aku mengerti. Namun, bagaimana dengan menolong orang yang berbuat zalim?”
Rasulullah menjawab, “Kamu cegah dia agar tidak berbuat aniaya, maka itulah
pertolonganmu untuknya.”
Jadi kita seharusnya berterima kasih jika ada yang menegur
kita, bahkan mencegah kita dengan kekuatan manakala kita sedang berbuat
kesalahan.
4. Takaful
Takaful ini akan melahirkan perasaan senasib dan
sepenanggungan. Di mana rasa susah dan sedih saudara kita dapat kita rasakan,
sehingga dengan serta merta kita memberikan pertolongan. Dalam sebuah hadits
Rasulullah memberikan perumpamaan yang menarik tentang hal ini, yaitu dengan
mengibaratkan orang beriman – yang bersaudara – sebagai satu tubuh.
Dalam hadits:
Artinya: “Perumpamaan orang-orang beriman di dalam
kecintaan, kasih sayang, dan hubungan kekerabatan mereka adalah bagaikan tubuh.
Bila salah satu anggotanya mengaduh sakit maka sekujur tubuhnya akan merasakan
demam dan tidak bisa tidur.”
Sekian dulu penjelasan dari saya, semoga apa yang saya
jelaskan tadi bermanfaat bagi anda. Terima kasih telah berkunjung.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Komentar
Posting Komentar